Ceramah Habib Taufiq Assegaf Pasuruan pada acara peringatan Khoul Mbah Slaga Kota Pasuruan sebelum adanya pandemi Covid 19. Ceramah beliau sangat lantang dan tegas mengarahkan dan membimbing para jama'ah dan santrinya untuk tetap memegang erat aqidah dan cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya yaitu Nabi Muhammad SAW agar hati dan pikiran menjadi tenang dan tentram, sebagaimana dijelaskan oleh beliau Habib Taufiq Assegaf dalam ceramah di makam Mbah Selaga kepada para jama'ah. Silahkan tonton video ini sampai selesai. Semoga kita semua dapat menjalankan dan meniru segala perilaku baik beliau serta semoga kita juga mendapat ilmu yang barokah dan manfaat walau hanya menonton video ini. Terima kasih.. silahkan menonton.
Selasa, 10 Agustus 2021
Senin, 09 Agustus 2021
KH. IDRIS HAMID : PENTINGNYA TALI SILATURRAHMI SESAMA MUSLIM SEDUNIA
KH. INDRIS HAMID adalah putra dari Romo Kyai Hamid Pasuruan seorang Waliyullah yang kharismatik. Mungkin dikatakan seorang Waliyullah karena setiap kali berhadapan atau punya niatan kepada beliau (Romo Kyai Hamid) selalu memberikan petunjuk sehingga hati dan pikiran menjadi teduh, nyaman, aman dan merasa seperti menemukan sesuatu yang berharga. Begitu juga dengan putra beliau yaitu KH. Idris Hamid yang mewarisi kealiman abah beliau mampu menciptakan suasana hati yang mampu memberikan kedamaian kepada siapapun.
Video di atas tersebut menjelaskan bagaimana seharusnya menjadi muslim yang bermanfaat dan selalu menjaga tali persaudaraan (silaturrahmi) sesama umat Islam. Silahkan menonton dan semoga kita mendapat ilmu yang manfaat dan barokah dari video ceramah beliau.
Senin, 05 April 2021
Belajar Menjadi Lebih Sabar
Apakah Anda tipe oran penyabar?
Ataukah Anda terpaksa menjadi penyabar karena tidak mau dikatakan sebagai pemarah?
Takutkah Anda jika tidak memiliki perasaan sabar? Sabar hanya sebutan bagi orang yang ingin disebut sabar. Tetapi sabar yang sesungguhnya adalah sabar akan situasi yang dimana situasi tersebut tidak menguntungkan bagi yang bersangkutan atau malah justru lebih banyak merugikan karena kesulitannya yang semakin rumit. Orang yang menentang perasaan tersebut bisa dikategorikan sebagai orang yang tidak sabar. Karena sabar pada hakikatnya adalah sabar yang tanpa batas dan tanpa syarat apapun,
Bersambung.......
Jumat, 01 Mei 2020
75 Tahun Wafatnya KH. Hasyim Asy'ari Pendiri NU dan Pahlawan Nasional
75
Tahun Wafatnya KH. Hasyim Asy'ari
Pendiri
NU dan Pahlawan Nasional
Hari ini tepatnya 75 tahun yang lalu, 7
Ramadhan 1366 Hijriyah bertepatan dengan wafatnya Rais Akbar Pengurus Besar
Nahdlatul Ulama (PBNU) Hadratusyaikh KH. Hasyim Asy’ari.
Kiai Hasyim
Asy'ari merupakan salah satu ulama besar, sekaligus pejuang Indonesia yang
berperan sebagai penyebar ajaran Islam di Nusantara.
"Hari
ini, 75 tahun lalu. Rais Akbar PBNU Hadratusyaikh KH Hasyim Asy’ari wafat.
Ulama, pejuang kemerdekaan, intelektual sekaligus pendidik yang
mendharma-bhaktikan hidupnya untuk kemanusiaan. Lahu Al-Fatihah," seperti
dikutip dari akun twitter resmi Ketua Pengurus Tanfidziyah Pengurus Besar
Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Robikin Emhas @robikinemhas, Kamis (30/4/2020).
KH. Hasyim
Asy’ari lahir pada 14 Februari 1871 yakni sebagai tokoh pendiri organisasi
Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU). Selain itu, kakek dari KH
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini memang lekat bukan hanya sebagai waliyullah,
namun sebagai pejuang kemerdekaan sekaligus tokoh nasionalisme karena berhasil
merumuskan hubungan agama dan negara.
Bagi KH
Hasyim Asy'ari, antara agama dan negara tidak saling bertentangan. Bisa
berjalan seiring bahkan saling memperkuat.
"Sosok
luar biasa yang merumuskan hubungan harmonis antara agama dan negara itu adalah
Hadratusy Syaikh KH Hasyim Asy'ari, pejuang kemerdekaan negara Republik
Indonesia, pendiri Nahdlatul Ulama," tuturnya.
Terlebih sosok yang
akrab disapa Mbah Hasyim ini sangat berperan penting dengan perkembangan Islam
Nusantara, dimana umat menjunjung tinggi nilai agama dan budaya. Di kalangan NU
sendiri perumasan tersebut sering disebut hubbul wathan minal iman,
yakni nasionalisme adalah bagian ajaran agama.Senin, 14 Oktober 2019
Soal UTS Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Semester Genap Kelas VII MTs/SMP
Oktober 14, 2019Soal UTS Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Semester Genap Kelas VII MTs/SMPNo comments
Mata Pelajaran : Bahasa
Indonesia
Kelas :
VII
Isilah titik-titik di bawah
ini dengan jawaban yang benar!
1.
Pengulangan bunyi yang
berselang di dalam maupun di akhir baris pada syair disebut ……….
2.
Syair berasal dari bahasa
Arab yaitu ………..
3.
Talibun terdiri dari ………..
baris.
4.
Gurindam disebut juga
dengan pantun ………..
5.
Rima pantun terdiri dari
………..
6.
Proses pemilihan kata dalam
pembuatan syair atau puisi disebut dengan ………..
7.
Rangkaian beberapa peristiwa
yang menjadi bentuk cerita disebut dengan ………..
8.
Tokoh dalam cerita fabel
diperankan oleh ………..
9.
Cerita fabel bertujuan
untuk ………..……….. dan ………..………..
10. Istilah pantun yang berasal dari bahasa Jawa disebut ………..
Jawablah pertanyaan-pertanyaan
di bawah ini dengan benar!
1.
Buatlah kalimat dengan
menggunakan kata konjungsi!
a.
Dan
b.
Sedangkan
c.
kemudian
2.
Sebutkan macam-macam don
geng sebanyak 4 macam!
3.
Sebutkan ciri-ciri pantun
minimal 3 (tiga)!
4.
Jelaskan pengertian dari
cerita fabel!
5.
Buatlah kalimat dengan
menggunakan
a.
Kata sifat
b.
Kata benda
Soal UTS Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Semester Genap 2019 Kelas VIII MTs/SMP
Mata Pelajaran : Bahasa
Indonesia
Kelas :
VIII
Isilah titik-titik di bawah
ini dengan jawaban yang benar!
1.
Teks ulasan disebut dengan
…………………
2.
Kata kerja yang selalu
diikuti oleh unsur subjek disebut
…………………
3.
Kata ganti orang kedua
jamak yaitu …………………
4.
Teks ulasan merupakan hasil
penilaian terhadap sebuah karya, seperti
…………………
5.
Kata yang berfungsi sebagai
predikat adalah kata …………………
6.
Teks yang digunakan untuk mengajak dan membujuk pembacanya agar
mau melakukan atau mengikuti yang penulis ungkapkan disebut dengan teks …………………
7.
Argument memiliki
pengertian yaitu …………………
8.
Kata-kata yang menyatakan
ajakan yaitu …………………
9.
Kata ganti orang ketiga tunggal yaitu …………………
10. Ibu memasak air.
Ayah memperbaiki kran air yang rusak.
Jika kedua kalimat tersebut digabung menjadi 1 (satu)
kalimat, maka menjadi ……………
Jawablah pertanyaan-pertanyaan
di bawah ini dengan benar!
1.
Sebutkan struktur teks
ulasan secara lengkap!
2.
Buatlah kalimat dengan
menggunakan kata-kata di bawah ini!
a.
Hebat :
……………………………………………………………………
b.
Pendayagunaan : ……………………………………………………………………
c.
Ilusi :
……………………………………………………………………
3.
Kalimat 1 : Abi membeli
baju.
Kalimat 2 : Abi membeli topi.
Kalimat 3 : Abi membeli jaket.
Kalimat 4 : Abi membeli mainan untuk adikku tercinta.
Gabungkanlah ke 4 (empat) kalimat di atas menjadi 1
(satu) kalimat!
4.
Isilah tabel di bawah ini
dengan lengkap dan benar!
KATA GANTI ORANG
|
TUNGGAL
|
JAMAK
|
Pertama
|
…………………………..
|
…………………………..
|
Kedua
|
…………………………..
|
…………………………..
|
Ketiga
|
…………………………..
|
…………………………..
|
5.
Buatlah teks persuasi
dengan struktur yang lengkap, mulai dari (a) pengenalan isu, (b) rangkaian
argument, (c) pernyataan ajakan, dan (d) penegasan kembali! Tema bebas.
SOAL UTS GANJIL Mata Pelajaran IPS Terpadu Kelas 7G
SOAL UTS GANJIL
Mata Pelajaran IPS Terpadu
Jodohkanlah soal-soal di
bawah ini dengan jawaban yang benar!
- Gambaran permukaan bumi pada suatu bidang datar dan diperkecil dengan menggunakan skala disebut …………….
- Letak suatu daerah atau Negara berdasarkan garis lintang dan garis bujur disebut ……………..
- Lapisan udara yang menyelimuti bumi disebut ……………..
- Sungai yang sumber airnya berasal dari pencairan salju yang terdapat di daerah lintang tinggi atau dipegunungan tinggi yang tertutup salju disebut ……………..
- Gempa yang ditimbulkan dari akibat letusan gunung api disebut ……………..
- Hasil sumber daya alam yang diambil dari dalam tanah dilakukan dengan cara ……………..
- Tambang Freeport di Timika Papua menghasilkan ……………..
- Bukit Asam dekat Tanjung Enim (Palembang) menghasilkan sumber daya alam berupa……………..
- Hutan yang tumbuh di wilayah pasang dan surut air yang akan tergenang disebut dengan hutan ……………..
- Petugas yang bertugas mendata jumlah kependudukan di beberapa wilayah disebut dengan petugas ……………..
Jawablah pertanyaan di
bawah ini dengan baik dan benar!
- Gambarkan simbol mata angin!
- Sebutkan sebanyak 5 (lima) macam jenis sumber daya alam yang dihasilkan melalui proses pertambangan!
- Jelaskan cara melestarikan dan menjaga agar laut tetap bersih dan indah!
- Bagaimana upaya menjaga agar hutan tetap lestari?
- Jelaskan hubungan manusia dengan lingkungannya!
Minggu, 06 Oktober 2019
Inspirasi | 3 Rahasia Santri Sukses dan Barokah
3 Rahasia Santri Sukses dan
Barokah
Orang muslim yang dekat dengan agamanya pasti tidak akan asing dengan
yang namanya Santri. Secara umum santri dapat diartikan sebagai siswa atau
murid yang sedang mendalami ilmu agama di pondok pesantren. Secara khusus
santri dapat diartikan sebagai seseorang yang sedang menjalani proses mendalami
ilmu dan merubah akhlaknya baik lahir maupun batin agar sempurna menuju
kesempurnaan manusia yaitu yang diistilahkan sebagai Insanul Kamil. Untuk
mencapai Insanul Kamil, maka seseorang wajib mengasah dan menekan dirinya untuk
tetap selalu beribadah kepada Allah SWT
tanpa imbalan apapun. Untuk itulah diperlukan proses belajar yang sempurna
yaitu menjadi seorang santri yang sebenar-benarnya.
Lalu bagaimana menjadi seorang santri yang sebenar-benarnya? Maka
jawabannya adalah jadilah santri yang selalu mendapat ridho dan barakah dari
seorang guru maupun Kyai. Tanpa guru maupun Kyai, maka apa yang diperoleh dari
seorang santri akan menjadi percuma dan hanya buang-buang waktu saja. Karena
suatu ilmu bila didapat tanpa perantara guru maka gurunya adalah syaithon
(setan). Oleh karena itu, seorang santri wajib memiliki guru maupun Kyai.
Menjadi seorang santri sangatlah mudah asal ada niat dan mau
menjalankannya saja sudah cukup. Santri tidak perlu mencari sebuah pesantren
yang besar dan megah, yang penting dia mampu menjalani hari-harinya dengan
bernafas islami dan akhlakul karimah. Santri cukup hanya ta’dim, tunduk patuh
terhadap guru maupun Kyai saja belajar apa yang disampaikan atau diajarkan oleh
para dewan guru itu sudah jauh dari kata cukup.
Ada beberapa tips jika ingin menjadi seorang yang sukses dan mendapatkan
ilmu barokah, yaitu:
1. Makan enak
2. Tidur nyenyak
3. Kiriman lebih banyak
Dari ketiga tips itu jika hanya dibaca akan terasa enak, akan tetapi
apabila dijalankan maka akan sangat sulit sekali rasanya. Bahkan dari 3 (tiga)
tips itu bahkan akan membuat kita berpikir ulang jika ingin menjadi santri
lebih lama lagi. Coba mari kita perjelas maksud dari 3 (tiga) tips tersebut:
1.
Makan enak : maksud dari makan
enak adalah apabila makannya hanya menunggu ketika perut lapar dan dengan porsi
yang sangat sedikit tentu membuat rasa makanan itu akan terasa nikmat sekali.
2.
Tidur nyenyak : maksud dari
tidur nyenyak di sini adalah apabila kapasitas tidurnya di pesantren hanya
sedikit dan sebentar sehingga sekali tidur akan terasa sangat nikmat dan
nyenyak sekali.
3.
Kiriman lebih banyak :
maksud dari kiriman lebih banyak yaitu karena kirimannya tidak dibuat foya-foya
atau berlebihan ketika berbelanja di pesantren. Sangking sedikitnya pengeluaran
jadi kirimannya menjadi lebih. Hal ini biasa dikatakan dengan istilah tirakat.
Ketiga tips itulah yang menjadi kunci dasar dari awal keberhasilan
seorang santri dalam menuntut ilmu.
Semoga ketiga tips itu dapat menginspirasi bagi para santri untuk hidup
lebih prihatin dalam meningkatkan tirakatnya di pesantren.
Penulis
Rifai Abdillah
Minggu, 20 Mei 2018
Cara Mendapatkan Malam Lailatul Qadar
cara mendapatkan malam lailatul qadar:
1. Meluruskan Niat Hanya Ingin Ridha Allah SWT
Yang pertama harus dilakukan untuk menjemput atau mendapatkan lailatul qadar adalah benar-benar bersemangat untuk meraihnya dan diawali dengan meluruskan niat semata-mata hanya ingin mendapatkan ridha Allah SWT.
”Barang siapa melaksanakan ibadah pada malam Lailatul Qadar dengan didasari keimanan dan harapan untuk mendapatkan keridhaan Allah, maka dosa-dosanya yang lalu akan diampuni.” [HR Bukhari Muslim]
2. Bermujahadah Dalam Ibadah
Untuk mendapatkan keberkahan malam lailatul qadar adalah dengan bermujahadah dalam ibadah kepada Allah SWT. ”Sungguh, Rasul tercinta pada 10 hari terakhir dari bulan Ramadhan, lebih bermujahadah melebihi kesungguhan beliau di waktu lainnya.”[(HR Muslim].
Bermujahadah disini seperti berpuasa dengan tanpa melakukan maksiat, membaca Alquran dengan pemahaman dan penghayatan dan menunaikan shalat tarawih.
3. Melaksanakan Syariat Allah SWT
Malam penuh berkah bisa didapatkan dengan melaksanakan kewajiban yang telah disyariatkan oleh Allah SWT, seperti zakat maal bagi hartawan dan jika wanita maka taatlah dengan memakai jlibab/menutup aurat.
4. Iktikaf di Masjid
Beriktikaf di masjid juga merupakan cara mendapatkan malam penuh berkah. Abu Said menceritakan tentang iktikaf Rasulullah di masjid yang ketika itu berlantaikan tanah dan tergenang air.
“Aku melihat pada kening Rasulullah ada bekas lumpur pada pagi hari Ramadhan.” [HR Muslim]
5. Khusyuk Dalam Beribadah
Saat melakukan ibadah hendaknya dilakukan dengan khusyuk , tidak banyak ngobrol dan tidur. Kita hendaknya memburai air mata memohon ampunan atas dosa yang sangat banyak kepada Allah serta rindu perjumpaan dengan-Nya.
6. Berazam dan Bersumpah Untuk Taubat Nashuha
Dengan mengakui banyaknya dosa yang kita lakukan selama hidup ini, maka kita hendaknya berazam dan bersumpah untuk bertaubat nashuha, tidak kembali mengulangi maksiat dan tidak akan menzalimi dan menyakiti siapapun lagi.
7. Meminta Maaf
Wajib meminta maaf kepada siapa pun termasuk kepada keluarga atau sahabat yang pernah kita sakiti. Karena jika tidak, akan menjadi hijab (penghalang) bagi doa dan ibadahnya.
8. Tidak Menyia-nyiakan Waktu
Waktu yang kita punya selanjutnya jangan sampai terbuang sia-sia kecuali dengan banyak berdzikir, beristighfar, bershalawat, menjaga wudhu dan senang dalam bersedekah.
9. Berdoa dengan Sungguh-sungguh
Berdoa dengan sungguh-sungguh, yakin penuh harap bahwa Allah Allah akan mengampuni dosa kita dan mengabulkan doa yang kita panjatkan.
“Wahai Rasulullah,” tanya Aisyah, “Bagaimana menurutmu andai aku mendapatkan Lailatul Qadar? Doa apa saja yang harus aku baca?” Beliau bersabda, “Ucapkanlah, Ya Allah! Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Maha Mulia, dan Engkau menyukai ampunan. Maka ampunilah aku.” [HR Tirmidzi]
1. Meluruskan Niat Hanya Ingin Ridha Allah SWT
Yang pertama harus dilakukan untuk menjemput atau mendapatkan lailatul qadar adalah benar-benar bersemangat untuk meraihnya dan diawali dengan meluruskan niat semata-mata hanya ingin mendapatkan ridha Allah SWT.
”Barang siapa melaksanakan ibadah pada malam Lailatul Qadar dengan didasari keimanan dan harapan untuk mendapatkan keridhaan Allah, maka dosa-dosanya yang lalu akan diampuni.” [HR Bukhari Muslim]
2. Bermujahadah Dalam Ibadah
Untuk mendapatkan keberkahan malam lailatul qadar adalah dengan bermujahadah dalam ibadah kepada Allah SWT. ”Sungguh, Rasul tercinta pada 10 hari terakhir dari bulan Ramadhan, lebih bermujahadah melebihi kesungguhan beliau di waktu lainnya.”[(HR Muslim].
Bermujahadah disini seperti berpuasa dengan tanpa melakukan maksiat, membaca Alquran dengan pemahaman dan penghayatan dan menunaikan shalat tarawih.
3. Melaksanakan Syariat Allah SWT
Malam penuh berkah bisa didapatkan dengan melaksanakan kewajiban yang telah disyariatkan oleh Allah SWT, seperti zakat maal bagi hartawan dan jika wanita maka taatlah dengan memakai jlibab/menutup aurat.
4. Iktikaf di Masjid
Beriktikaf di masjid juga merupakan cara mendapatkan malam penuh berkah. Abu Said menceritakan tentang iktikaf Rasulullah di masjid yang ketika itu berlantaikan tanah dan tergenang air.
“Aku melihat pada kening Rasulullah ada bekas lumpur pada pagi hari Ramadhan.” [HR Muslim]
5. Khusyuk Dalam Beribadah
Saat melakukan ibadah hendaknya dilakukan dengan khusyuk , tidak banyak ngobrol dan tidur. Kita hendaknya memburai air mata memohon ampunan atas dosa yang sangat banyak kepada Allah serta rindu perjumpaan dengan-Nya.
6. Berazam dan Bersumpah Untuk Taubat Nashuha
Dengan mengakui banyaknya dosa yang kita lakukan selama hidup ini, maka kita hendaknya berazam dan bersumpah untuk bertaubat nashuha, tidak kembali mengulangi maksiat dan tidak akan menzalimi dan menyakiti siapapun lagi.
7. Meminta Maaf
Wajib meminta maaf kepada siapa pun termasuk kepada keluarga atau sahabat yang pernah kita sakiti. Karena jika tidak, akan menjadi hijab (penghalang) bagi doa dan ibadahnya.
8. Tidak Menyia-nyiakan Waktu
Waktu yang kita punya selanjutnya jangan sampai terbuang sia-sia kecuali dengan banyak berdzikir, beristighfar, bershalawat, menjaga wudhu dan senang dalam bersedekah.
9. Berdoa dengan Sungguh-sungguh
Berdoa dengan sungguh-sungguh, yakin penuh harap bahwa Allah Allah akan mengampuni dosa kita dan mengabulkan doa yang kita panjatkan.
“Wahai Rasulullah,” tanya Aisyah, “Bagaimana menurutmu andai aku mendapatkan Lailatul Qadar? Doa apa saja yang harus aku baca?” Beliau bersabda, “Ucapkanlah, Ya Allah! Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Maha Mulia, dan Engkau menyukai ampunan. Maka ampunilah aku.” [HR Tirmidzi]
Cerita: Cahaya Bintang Si Bocah
Cahaya Bintang Si Bocah
Si Bocah Menangis karena Cahaya Bintangnya redup.
Si bocah mendendangkan syair kegelisahannya.
Aku terdiam bersama kebodohan yang aku buat-buat
Menangis juga karenanya
Rasa lemah menghantuiku
Rasa pesimis menggerogoti cahaya bintangku
Seperti aku sudah merasakan bahwa akulah bintang itu
Akulah yang tergerogoti
Aku akan segera mati
Tetapi waktu menertawakanku
Maka aku tergerak untuk bertanya, “mengapa engkau menertawakanku, hai Waktu?”
Waktu menjawab, “bagaimana kau mengetahui bahwa dirimu akan segera mati. Sedangkan aku saja yang melihat banyak kematian dari kalanganmu, tidak mengetahui kapan aku akan berhenti. Betapa bodohnya orang-orang yang seperti dirimu.”
“Aku memang bodoh Sang Waktu, bahkan kebodohan itu telah menggerogoti cahaya bintangku.”
“Orang yang mengaku dirinya bodoh adalah orang yang tidak mau belajar. Kau tidak mengetahui sudah berapa ribu tahun aku mempelajari tentang seluk beluk kehidupan.”
“Apa kau sudah banyak mengetahui tentang kehidupan?”
“Kehidupan pada akhirnya bermuara pada yang Maha Hidup. Itulah yang aku ketahui.” Sang waktu terlihat percaya diri.
“Lantas, apakah yang harus aku lakukan sekarang?” si bocah menanyai Sang Waktu yang terlihat pintar karena mempelajari seluk beluk kehidupan.
“Kau harus belajar menghidupkan cahaya bintangmu.”
“Bagaimana caranya, Wahai Sang Waktu?”
“Jika kau ingin menghidupkan cahaya bintangmu, maka kau harus belajar pada Sang Malam?”
“Apa aku harus bergadang?” si bocah merasa sangat enggan.
“Terkadang, ilmu juga butuh pengorbanan dan kerja keras, itu adalah bentuk kebulatan tekad.”
“Terima kasih kalau begitu, Duhai sang waktu, nanti malam aku akan bertanya pada Sang Malam.”
***
Malam tiba, seiring dengan perputaran waktu.
“Duhai malam yang menyejukkan, izinkan aku mendendangkan syair untukmu.
Ketika malam telah gelap, dimanakah siang?
Dan ketika pagi mulai menjelang dimanakah engkau Duhai malam yang menyejukkan?”
simon
“Aku selalu ada, hanya engkau yang tidak mengetahui. Hati-hati dengan malam, jangan berbicara sembarangan tentangku.” Malam terlihat sedikit tersinggung.
“Maafkan aku yang bodoh ini, wahai malam yang berteman siang,” si bocah segera meminta maaf dengan agak gemetar.
“Dari sudut pandang mana engkau mengira aku berteman dengan siang?” Malam semakin tersinggung.
“Aku sungguh bodoh duhai malam.” Si bocah terlihat sangat ketakutan, setiap ucapan yang dikeluarkannya salah. Tapi pertanyaan mencuat mendominasi pikirannya. “Memangnya engkau tidak berteman dengan siang?”
“Aku tidak berteman, aku berpasangan dengannya. Tidakkah kau pernah membaca kitab suci?”
“Kitab suci tidak akan pernah memberikan suatu bukti.”
“Lantas mengapa engkau di sini sekarang dan berbincang denganku sedangkan engkau saja tidak percaya pada kitab suci. Ingat! Namaku tertulis di sana. Mungkin lebih banyak dari pada Sang Waktu.”
Si bocah tidak ingin menyinggung malam lebih parah lagi, seakan semua yang diucapkannya berbeda dengan pemikiran Sang Malam. “Duhai malam, aku tidak pernah berniat menyinggungmu. Aku hanya ingin bertanya, bagaimana cara untuk menghidupkan cahaya bintangku?”
“Aku tidak tahu. Aku hanya malam, bukan Sang Bintang. Tanyalah pada bintang itu sendiri.”
“Tetapi Sang Waktu menyuruhku untuk belajar kepadamu?”
“Sang Waktu hanya ingin melihatmu menghabiskan waktu untuk belajar. Padahal, ia juga tidak tahu jawabannya.”
Si bocah berpikir Sang Malam tidak mau mengajarkannya karena ia telah menyinggungnya tadi, tetapi si bocah mempunyai tekad yang besar, ia terus mendesak Malam. “Tapi karenamu aku dapat melihat bintang, siang tak akan bisa memberikannya padaku.”
“Setahuku bintang itu adalah Matahari. Dan bintang yang kau lihat sekarang adalah matahari yang sangat jauuuh di luar jangkauanku.—Coba saja kau tanyakan pada bulan, mengapa ia bersinar? Bahkan sinarnya redup…. Pasti ia akan menjawab, ia bersinar karena matahari.”
Si bocah mengangguk… “Berarti dengan kata lain, ketika aku berkata ingin menghidupkan cahaya bintangku, itu berarti aku ingin menghidupkan cahaya matahariku.”
“Sepertinya begitu,” sahut Malam ikut menduga.
“Lantas apa yang harus aku lakukan?” aku cemberut dan putus asa karena ternyata Malam juga tidak bisa membantu.
“Kau harus bertanya pada matahari, karena dialah sumber siang dan malam.” Malam mencoba memberi solusi.
“Aku lelah duhai malam,” kata si bocah mengeluh.
“Tidurlah duhai bocah, karena ini yang diinginkan Sang Waktu. Dia tidak ingin melihatmu menyia-nyiakan waktu kemudian kamu memvonis dirimu bodoh hanya karena engkau menyia-nyiakan waktu dengan tidak mau mempelajari tentang cahaya bintangmu atau apa yang ingin kau pelajari.”
Si bocah tidur berselimutkan malam, dengan hangat sinar bulan purnama yang cemerlang.
Matahari dari sudut yang tak terlihat sedang tersenyum melihat si bocah yang ingin menemuinya besok. “Purnama itu untukmu, bocah,” kata Matahari. “Cahaya bulan mulai menerang ketika engkau mulai mempertanyakan tentang cahaya bintangmu.”
***
Sinar pagi menyilaukan mata si bocah ketika baru saja membuka matanya. “Ini pagi yang hangat.” Di luar otak sadarnya tentu dia sudah sangat rindu dengan Matahari. “Apa yang kunanti telah tiba,” ujar si bocah penuh semangat.
Ia berusaha menatap Matahari namun cahayanya sangat terang dan membakar mata. “Duhai matahari, betapa agung dirimu. Aku tak bisa melihatmu. Betapa terang sinarmu.” Itu adalah rayuan si bocah untuk setiap orang yang ia temui.
“Betapa lebih agungnya sinar yang mencinptakan diriku,” sahut Matahari.
“Siapakah sinar agung yang menciptakan dirimu?” si bocah mempertanyakan sinar yang dimaksud.
“Sinar itu adalah cahaya Tuhan.”
“Tapi kau lebih tampak dari pada Tuhan.”
Tadi kau berkata, ‘kau tidak bisa melihatku’ . Sesungguhnya, kau bukan tidak bisa melihatku, hanya saja matamu tidak kuat untuk memandangku.—Jika memandangku saja, kamu tidak kuat, bagaimana kamu sanggup untuk memandang cahaya Tuhan.”
Kata-kata Matahari terlalu tinggi untuk ia sanggah. Ia beralih ke tujuan awalnya menemui Matahari.
“Duhai Matahari, kaulah sumber segala cahaya. Mohon sekiranya kau membantuku, aku ingin menghidupkan cahaya bintangku.”
“Nah, baguslah…,” sambut Matahari gembira. “Karena sebelum kau berangan-angan melihat cahaya yang lain. Kau terlebih dahulu harus menghidupkan dan melihat cahaya bintangmu sendiri. Karena semua cahaya bersumber dari yang Satu.”
“Lantas bagaimanakah caranya, wahai Matahari?” si bocah mulai mencoba masuk ke jawaban yang ia inginkan.
“Seperti yang aku katakan,” kata Matahari. “Semua cahaya bersumber dari yang Satu. Cahayaku dan cahayamu bersumber dari Sang Maha Pencerah. Maka terus ingat Dia, yang menciptakan segala cahaya. Sebut namaNya dan berdoalah agar ia menghidupkan cahaya bintangmu. Lalu setelah Tuhan berbaik hati membinarkan cahaya bintangmu, jangan lagi meredupkannya dengan tindakan yang bisa meredupkan dan mematikannya.” Matahari mulai bergeser sedikit demi sedikit kenudian kembali melanjutkan kalimatnya. “Aku telah mendengar rintihan syair keputus-asaanmu waktu itu, ketika kau bersyair masygul bahwa kebodohan telah menipumu dan meredupkan cahaya bintangmu.”
“Lantas mengapa cahaya begitu penting?”
“Karena cahaya mempunyai sifat yang benderang, dengan cahaya kita bisa melihat dengan jelas dan nyata. Dengan cahaya, kau tidak meraba dalam berjalan, tidak takut dalam melangkah dan tidak kebingungan dalam mencari arah menuju ke yang Maha Benderang.”
Si bocah berpikir, kenapa Tuhan tidak menciptakan siang saja, bukankah lebih baik? “Lalu kenapa harus ada malam?” si bocah bertanya kepada Matahari.
“Semua penciptaan di bumi adalah bentuk pembelajaran dan pemikiran bagi manusia secara hakikat maupun materi. Mengapa harus ada malam?
“Malam dan siang itu terkait dengan hitam dan putih, seperti halnya dua sifat yang dimiliki manusia adalah baik dan buruk.—Ketika kau mendendangkan syair masygulmu, seakan kau berada di tengah malam yang gelap, hanya terlihat bulan dengan cahayanya yang temaram. Cahayanya tidak cukup untuk membimbingmu berjalan. Coba bayangkan jika kau berhari-hari dalam kegelapan, tidak ada siang sedikitpun, niscaya kau meminta mati dari hidup terus melelahkan seperti itu.
“Namun ketika kau melihat cahaya bulan, ada sebuah pengharapan di sana.—Itulah cahayaku, yang belum kau temukan sepenuhnya. Dan ketika kau berdoa dan mencariku, saat itulah aku juga akan mencarimu, memberikanmu tanda-tanda keberadaanku agar kau bisa berjalan kearahku.
“Aku akan mendendangkan sedikit syairku untukmu.
“Saat sinarku mulai benderang dan menyinarkan cahaya yang terang ke arahmu, janganlah bersembunyi di tempat-tempat gelap atau gua atau malah membentangkan tabir diantara kita berdua.
Saat engkau berada dalam gua atau tempat yang gelap atau malam yang panjang, Janganlah berputus asa. Lihatlah, selalu ada cahaya diantara kegelapan.
Lihatlah dari sisi gua atau tempat gelap itu, cahaya kecilku menembus untukmu.
Lihatlah ketika malam panjang berada dipangkuanmu, aku menyertai cahaya bulan di sana.
Janganlah berputus asa. Jika kau merindukan pertemuan kita.
Kita pasti akan berjumpa.”
“Syairmu sungguh indah, Duhai matahari yang memancarkan cahaya. Dan terima kasih atas semua penjelasanmu.”
“Sama-sama aku ucapkan untukmu, karena seorang pencari cahaya dan orang-orang yang bercahaya adalah berkah bagi semesta alam. Cahaya kebaikanmu bahkan adalah selimut hangat untukku.”
Matahari mulai berjalan condong ke arah barat. “Sambutlah malam yang akan menjelang, tetapi jangan pernah berhenti untuk bercahaya. Karena tak akan ada seorang pun yang bisa memadamkan cahaya bintangmu kecuali dirimu sendiri.
“Jangan pernah berhenti bercahaya!” teriak matahari lagi, ketika sudah hendak dimakan lautan. “Meskipun siang dan malam silih berganti, tetapi kau harus tetap cemerlang.”
Matahari yang bijak tenggelam dan aku menyambut malam dengan rasa syukur, karena semua penciptaan adalah bentuk pembelajaran dan ladang berpikir bagi manusia untuk menuju ke arahNya, begitu seperti yang dikatakan Matahari.
Si Bocah Menangis karena Cahaya Bintangnya redup.
Si bocah mendendangkan syair kegelisahannya.
Aku terdiam bersama kebodohan yang aku buat-buat
Menangis juga karenanya
Rasa lemah menghantuiku
Rasa pesimis menggerogoti cahaya bintangku
Seperti aku sudah merasakan bahwa akulah bintang itu
Akulah yang tergerogoti
Aku akan segera mati
Tetapi waktu menertawakanku
Maka aku tergerak untuk bertanya, “mengapa engkau menertawakanku, hai Waktu?”
Waktu menjawab, “bagaimana kau mengetahui bahwa dirimu akan segera mati. Sedangkan aku saja yang melihat banyak kematian dari kalanganmu, tidak mengetahui kapan aku akan berhenti. Betapa bodohnya orang-orang yang seperti dirimu.”
“Aku memang bodoh Sang Waktu, bahkan kebodohan itu telah menggerogoti cahaya bintangku.”
“Orang yang mengaku dirinya bodoh adalah orang yang tidak mau belajar. Kau tidak mengetahui sudah berapa ribu tahun aku mempelajari tentang seluk beluk kehidupan.”
“Apa kau sudah banyak mengetahui tentang kehidupan?”
“Kehidupan pada akhirnya bermuara pada yang Maha Hidup. Itulah yang aku ketahui.” Sang waktu terlihat percaya diri.
“Lantas, apakah yang harus aku lakukan sekarang?” si bocah menanyai Sang Waktu yang terlihat pintar karena mempelajari seluk beluk kehidupan.
“Kau harus belajar menghidupkan cahaya bintangmu.”
“Bagaimana caranya, Wahai Sang Waktu?”
“Jika kau ingin menghidupkan cahaya bintangmu, maka kau harus belajar pada Sang Malam?”
“Apa aku harus bergadang?” si bocah merasa sangat enggan.
“Terkadang, ilmu juga butuh pengorbanan dan kerja keras, itu adalah bentuk kebulatan tekad.”
“Terima kasih kalau begitu, Duhai sang waktu, nanti malam aku akan bertanya pada Sang Malam.”
***
Malam tiba, seiring dengan perputaran waktu.
“Duhai malam yang menyejukkan, izinkan aku mendendangkan syair untukmu.
Ketika malam telah gelap, dimanakah siang?
Dan ketika pagi mulai menjelang dimanakah engkau Duhai malam yang menyejukkan?”
simon
“Aku selalu ada, hanya engkau yang tidak mengetahui. Hati-hati dengan malam, jangan berbicara sembarangan tentangku.” Malam terlihat sedikit tersinggung.
“Maafkan aku yang bodoh ini, wahai malam yang berteman siang,” si bocah segera meminta maaf dengan agak gemetar.
“Dari sudut pandang mana engkau mengira aku berteman dengan siang?” Malam semakin tersinggung.
“Aku sungguh bodoh duhai malam.” Si bocah terlihat sangat ketakutan, setiap ucapan yang dikeluarkannya salah. Tapi pertanyaan mencuat mendominasi pikirannya. “Memangnya engkau tidak berteman dengan siang?”
“Aku tidak berteman, aku berpasangan dengannya. Tidakkah kau pernah membaca kitab suci?”
“Kitab suci tidak akan pernah memberikan suatu bukti.”
“Lantas mengapa engkau di sini sekarang dan berbincang denganku sedangkan engkau saja tidak percaya pada kitab suci. Ingat! Namaku tertulis di sana. Mungkin lebih banyak dari pada Sang Waktu.”
Si bocah tidak ingin menyinggung malam lebih parah lagi, seakan semua yang diucapkannya berbeda dengan pemikiran Sang Malam. “Duhai malam, aku tidak pernah berniat menyinggungmu. Aku hanya ingin bertanya, bagaimana cara untuk menghidupkan cahaya bintangku?”
“Aku tidak tahu. Aku hanya malam, bukan Sang Bintang. Tanyalah pada bintang itu sendiri.”
“Tetapi Sang Waktu menyuruhku untuk belajar kepadamu?”
“Sang Waktu hanya ingin melihatmu menghabiskan waktu untuk belajar. Padahal, ia juga tidak tahu jawabannya.”
Si bocah berpikir Sang Malam tidak mau mengajarkannya karena ia telah menyinggungnya tadi, tetapi si bocah mempunyai tekad yang besar, ia terus mendesak Malam. “Tapi karenamu aku dapat melihat bintang, siang tak akan bisa memberikannya padaku.”
“Setahuku bintang itu adalah Matahari. Dan bintang yang kau lihat sekarang adalah matahari yang sangat jauuuh di luar jangkauanku.—Coba saja kau tanyakan pada bulan, mengapa ia bersinar? Bahkan sinarnya redup…. Pasti ia akan menjawab, ia bersinar karena matahari.”
Si bocah mengangguk… “Berarti dengan kata lain, ketika aku berkata ingin menghidupkan cahaya bintangku, itu berarti aku ingin menghidupkan cahaya matahariku.”
“Sepertinya begitu,” sahut Malam ikut menduga.
“Lantas apa yang harus aku lakukan?” aku cemberut dan putus asa karena ternyata Malam juga tidak bisa membantu.
“Kau harus bertanya pada matahari, karena dialah sumber siang dan malam.” Malam mencoba memberi solusi.
“Aku lelah duhai malam,” kata si bocah mengeluh.
“Tidurlah duhai bocah, karena ini yang diinginkan Sang Waktu. Dia tidak ingin melihatmu menyia-nyiakan waktu kemudian kamu memvonis dirimu bodoh hanya karena engkau menyia-nyiakan waktu dengan tidak mau mempelajari tentang cahaya bintangmu atau apa yang ingin kau pelajari.”
Si bocah tidur berselimutkan malam, dengan hangat sinar bulan purnama yang cemerlang.
Matahari dari sudut yang tak terlihat sedang tersenyum melihat si bocah yang ingin menemuinya besok. “Purnama itu untukmu, bocah,” kata Matahari. “Cahaya bulan mulai menerang ketika engkau mulai mempertanyakan tentang cahaya bintangmu.”
***
Sinar pagi menyilaukan mata si bocah ketika baru saja membuka matanya. “Ini pagi yang hangat.” Di luar otak sadarnya tentu dia sudah sangat rindu dengan Matahari. “Apa yang kunanti telah tiba,” ujar si bocah penuh semangat.
Ia berusaha menatap Matahari namun cahayanya sangat terang dan membakar mata. “Duhai matahari, betapa agung dirimu. Aku tak bisa melihatmu. Betapa terang sinarmu.” Itu adalah rayuan si bocah untuk setiap orang yang ia temui.
“Betapa lebih agungnya sinar yang mencinptakan diriku,” sahut Matahari.
“Siapakah sinar agung yang menciptakan dirimu?” si bocah mempertanyakan sinar yang dimaksud.
“Sinar itu adalah cahaya Tuhan.”
“Tapi kau lebih tampak dari pada Tuhan.”
Tadi kau berkata, ‘kau tidak bisa melihatku’ . Sesungguhnya, kau bukan tidak bisa melihatku, hanya saja matamu tidak kuat untuk memandangku.—Jika memandangku saja, kamu tidak kuat, bagaimana kamu sanggup untuk memandang cahaya Tuhan.”
Kata-kata Matahari terlalu tinggi untuk ia sanggah. Ia beralih ke tujuan awalnya menemui Matahari.
“Duhai Matahari, kaulah sumber segala cahaya. Mohon sekiranya kau membantuku, aku ingin menghidupkan cahaya bintangku.”
“Nah, baguslah…,” sambut Matahari gembira. “Karena sebelum kau berangan-angan melihat cahaya yang lain. Kau terlebih dahulu harus menghidupkan dan melihat cahaya bintangmu sendiri. Karena semua cahaya bersumber dari yang Satu.”
“Lantas bagaimanakah caranya, wahai Matahari?” si bocah mulai mencoba masuk ke jawaban yang ia inginkan.
“Seperti yang aku katakan,” kata Matahari. “Semua cahaya bersumber dari yang Satu. Cahayaku dan cahayamu bersumber dari Sang Maha Pencerah. Maka terus ingat Dia, yang menciptakan segala cahaya. Sebut namaNya dan berdoalah agar ia menghidupkan cahaya bintangmu. Lalu setelah Tuhan berbaik hati membinarkan cahaya bintangmu, jangan lagi meredupkannya dengan tindakan yang bisa meredupkan dan mematikannya.” Matahari mulai bergeser sedikit demi sedikit kenudian kembali melanjutkan kalimatnya. “Aku telah mendengar rintihan syair keputus-asaanmu waktu itu, ketika kau bersyair masygul bahwa kebodohan telah menipumu dan meredupkan cahaya bintangmu.”
“Lantas mengapa cahaya begitu penting?”
“Karena cahaya mempunyai sifat yang benderang, dengan cahaya kita bisa melihat dengan jelas dan nyata. Dengan cahaya, kau tidak meraba dalam berjalan, tidak takut dalam melangkah dan tidak kebingungan dalam mencari arah menuju ke yang Maha Benderang.”
Si bocah berpikir, kenapa Tuhan tidak menciptakan siang saja, bukankah lebih baik? “Lalu kenapa harus ada malam?” si bocah bertanya kepada Matahari.
“Semua penciptaan di bumi adalah bentuk pembelajaran dan pemikiran bagi manusia secara hakikat maupun materi. Mengapa harus ada malam?
“Malam dan siang itu terkait dengan hitam dan putih, seperti halnya dua sifat yang dimiliki manusia adalah baik dan buruk.—Ketika kau mendendangkan syair masygulmu, seakan kau berada di tengah malam yang gelap, hanya terlihat bulan dengan cahayanya yang temaram. Cahayanya tidak cukup untuk membimbingmu berjalan. Coba bayangkan jika kau berhari-hari dalam kegelapan, tidak ada siang sedikitpun, niscaya kau meminta mati dari hidup terus melelahkan seperti itu.
“Namun ketika kau melihat cahaya bulan, ada sebuah pengharapan di sana.—Itulah cahayaku, yang belum kau temukan sepenuhnya. Dan ketika kau berdoa dan mencariku, saat itulah aku juga akan mencarimu, memberikanmu tanda-tanda keberadaanku agar kau bisa berjalan kearahku.
“Aku akan mendendangkan sedikit syairku untukmu.
“Saat sinarku mulai benderang dan menyinarkan cahaya yang terang ke arahmu, janganlah bersembunyi di tempat-tempat gelap atau gua atau malah membentangkan tabir diantara kita berdua.
Saat engkau berada dalam gua atau tempat yang gelap atau malam yang panjang, Janganlah berputus asa. Lihatlah, selalu ada cahaya diantara kegelapan.
Lihatlah dari sisi gua atau tempat gelap itu, cahaya kecilku menembus untukmu.
Lihatlah ketika malam panjang berada dipangkuanmu, aku menyertai cahaya bulan di sana.
Janganlah berputus asa. Jika kau merindukan pertemuan kita.
Kita pasti akan berjumpa.”
“Syairmu sungguh indah, Duhai matahari yang memancarkan cahaya. Dan terima kasih atas semua penjelasanmu.”
“Sama-sama aku ucapkan untukmu, karena seorang pencari cahaya dan orang-orang yang bercahaya adalah berkah bagi semesta alam. Cahaya kebaikanmu bahkan adalah selimut hangat untukku.”
Matahari mulai berjalan condong ke arah barat. “Sambutlah malam yang akan menjelang, tetapi jangan pernah berhenti untuk bercahaya. Karena tak akan ada seorang pun yang bisa memadamkan cahaya bintangmu kecuali dirimu sendiri.
“Jangan pernah berhenti bercahaya!” teriak matahari lagi, ketika sudah hendak dimakan lautan. “Meskipun siang dan malam silih berganti, tetapi kau harus tetap cemerlang.”
Matahari yang bijak tenggelam dan aku menyambut malam dengan rasa syukur, karena semua penciptaan adalah bentuk pembelajaran dan ladang berpikir bagi manusia untuk menuju ke arahNya, begitu seperti yang dikatakan Matahari.
Jumat, 11 Mei 2018
14 Contoh Kalimat Pendapat dalam Diskusi
14 Contoh Kalimat Pendapat dalam Diskusi
Dalam diskusi, setiap peserta pasti akan mengemukakan pendapatnya.
Adapun pendapat yang dikemukakan bisa berupa tanggapan positif atau negatif,
kritik atau saran, persetujuan, sanggahan, dan bahkan penolakan. Oleh
karenanya, dalam mengungkapkan pendapat, setiap peserta diskusi pasti
menggunakan beberapa jenis-jenis kalimat berikut, yaitu: contoh
kalimat tanggapan positif, contoh kalimat tanggapan negatif, contoh
kalimat saran dan kalimat kritik, contoh kalimat persetujuan, contoh
kalimat sanggahan, dan contoh kalimat penolakan.
Untuk mengteahui
seperti apa kalimat pendapat yang dimaksud, berikut ditampilkan contoh kalimat
pendapat dalam diskusi!
1. Terus terang, saya sangat setuju dengan apa
yang Anda kemukakan barusan.
2. Saya sependapat dengan pendapat saudara,
bahwa kegiatan ekstrakulikuler mesti diikuti oleh setiap murid di sekolah kita.
3. Saya memiliki gagasan yang sama dengan yang
dinyatakan oleh saudara A terkait masalah tersebut.
4. Menurut saya, sebaiknya kegiatan
ekstrakulikuler dilakukan di dalam sekolah saja. Selain fasilitas di sekolah
kita cukup lengkap, pihak ekstrakulikuler pun jadi tidak perlu repot
mengeluarkan banyak biaya.
5. Terima kasih kepada moderator atas kesempatan
yang diberikan. Menurut pendapat saya, sebaiknya para koruptor diberi hukuman
mati saja, agar menimbulkan efek jera bagi para pelakunya.
6. Terus terang saja, saya tidak sependapat
dengan Bapak terkait pernyataan Bapak tersebut.
7. Interupsi, saya minta izin untuk meluruskan
apa yang dinyatakan oleh saudara A barusan. Jadi begini saudara A, apa yang
Anda nyatakan tadi sebetulnya tidak sesuai dengan pokok pembicaraan yang tengah
kita bahas saat ini.
8. Saya sependapat dengan saudara B. Namun,
alangkah lebih bijak, jika kebijakan yang saudara B canangkan itu disusun lebih
dahulu hingga matang. Dengan begitu, kebijakan tersebut bisa lebih matang saat
hendak dieksekusi.
9. Menurut saya gagasan dari saudara C sudah
sangat tepat, mengingat kondisi lingkungan saat ini yang sedang tidak kondusif.
10. Menurut saya, kebijakan Pak Kepala sekolah
terkait keikutsertaan mereka dalam ekstrakulikuler sudah bagus. Namun, alangkah
lebih baiknya, jika kebijakan tersebut dipeinci lagi, terutama terkait jumlah
ekstrakulikuler yang harus diikuti tiap siswa di sekolah kita.
11. Saya tidak sependapat dengan kebijakan kepala
sekolah mengenai keharusan para siswa untuk mengikuti 3 ekstrakulikuler
sekaligus. Sebab, hal itu akan membuat anak-anak sulit untuk membagi waktu
antara belajar di kelas dengan kegiatan ekstrakulikuler. Menurut saya, alangkah
lebih baik jika setiap siswa hanya mengikuti 1 ekstrakulikuler saja. Dengan
begitu, mereka bisa membagi waktu antara belajar di kelas dengan kegiatan
ekstrakulikuler.
12. Saya tidak sependapat dengan rencana
kerjasama antar perusahaan kita dengan perusahaan C. Sebab, perusahaan C
mempunyai rekam jejak yang buruk.
13. Kalau boleh saya menyanggah, maka saya akan
menyatakan bahwa saya tidak setuju dengan pendapat saudara Budi. Sebab, menurut
pendapat saya, apa yang diutarakan saudara Budi tersebut tidak sesuai dengan
kondisi aktual yang kita alami saat ini.
14. Terima kasih kepada Bapak Mahmud selaku
moderator diskusi yang telah memberikan saya kesempatan untuk berpendapat. Di
sini saya ingin mengkritisi pendapat Pak Burhan soal
wacana adanya sistem sekolah sehari penuh. Menurut saya, program
tersebut kuranglah baik diterapkan di sekolah kita, karena akan membuat anak
merasa jenuh dan tersiksa dalam menjalani proses belajar mengajar di sekolah.
Demikianlah
contoh kalimat pendapat dalam diskusi. Semoga bermanfaat dan mampu menambah
wawasan pembaca sekalian, baik itu mengenai kalimat pendapat khususnya, maupun
bahasa Indonesia pada umumnya. Sekian dan terima kasih.
PELAJARAN POLITIK DARI SANG MURSYID KH. MUSTA’IN ROMLI
PELAJARAN POLITIK DARI SANG
MURSYID KH. MUSTA’IN ROMLi
Hidup kira-kira
1920-1984. Setelah ayah beliau wafat, KH. Musta’in memangku Pondok Pesantren
Darul Ulum, Rejoso (Jombang) dan sebagai Syaikh Tarekat Qadiriyah wa
Naqsyabandiyah, yang memiliki puluhan ribu pengikut di Jawa Timur. Kiai
Musta’in menggantikan kedudukan sang ayah, Kiai Romly Tamim yang wafat pada
1958, baik sebagai kiai maupun syaikh tarekat. KH. Romly maupun KH. Musta’in
adalah sama-sama aktivis NU, namun keduanya sama-sama tidak mempunyai jabatan
formal di kepengurusan NU, kecuali di tingkat lokal.
Sekitar 1973, KH. Musta’in bergabung ke Golkar, partai
pemerintah dan saingan serius PPP. Pada pemilu 1977 KH. Musta’in aktif
berkampanye untuk Golkar. Beliau “dihukum” oleh sesama kiai atas tindakannya
dalam meninggalkan PPP, melalui sebuah kampanye yang berhasil melalui
kepemimpinan tarekat yang berada di tangannya. Bahkan sempat terjadi
ketegangan antara sang Kiai dengan keluarga selatan. Keluarga yang memilih
kendaraan politik melalui PPP.
KH.
Musta’in Romly lahir di Rejoso pada tanggal 31 Agustus 1931. Sejak kecil ia
mendapat didikan langsung dari kedua orang tuanya. Dan baru tahun tahun 1949 M
melanjutkan studi di Semarang dan Solo di Akademi Dakwah Al Mubalighoh,
diperguruan ini bakat kepemimpinannya menonjol sehingga pada waktu singkat
mengajak sahabat-sahabatnya yang berasal dari daerah Jombang mendirikan
Persatuan Mahasiswa Jombang. Studi di Lembaga ini diakhiri pada tahun 1954 M.
Pada tahun 1954 M beliau aktif di Nahdhatul Ulama Jombang tempat
asalnya dan kemudian menjadi pengurus IPNU Pusat tahun 1954 sampai 1956. Upaya
menerpa diri untuk lebih matang sebagai pimpinan Pondok Pesantren, KH Musta’in
Romly banyak beranjang sana ke berbagai pondok pesantren dan lembaga pendidikan
pada umumnya. Mulai tingkat nasional sampai internasional. Dalam kaitan inilah
pada tahun 1963 M beliau Muhibbah ke Negara-negara Eropa dan Timur Tengah, yang
juga berziarah ke makam Syeh Abdul Qodir Al Jailani tokoh pemprakarsa Thoriqoh
Qodiriyah, di Irak.
Hal ini penting mengingat beliau adalah Al Mursyid Thariqah
Qodiriyah wa Naqsabandiyah mewarisi keguruan KH. Romly Tamim dam KH. Cholil
Rejoso. Oleh-oleh dari kunjungan muhibbah ini antara lain yaitu mendorong
berdirinya Universitas Darul Ulum pada tanggal 18 September 1965. Universitas Darul
Ulum sendiri diprakasai oleh Dr. KH. Musta’in Romly, KH. Bhisry Cholil, K.
Ahmad Baidhowi Cholil, Mohammad Wiyono (mantan Gubernur Jatim), KH. Muh. As’ad
Umar dan Muhammad Syahrul, SH. Untuk melengkapi keabsahan KH. Musta’in Romly
sebagai Rektor, pada tahub 1977 beliau mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari
Macau University. Pada tahun 1981 lawatan ke Timur Tengah dilakukan kembali,
dengan hasil kerjasama antara Universitas Darul Ulum dan Iraq University dalam
bentuk tukar-menukar tenaga edukatif, dan dengan Kuwait University dalam bentuk
beasiswa studi ke Kuwait.
Pada tahun 1984 KH. Musta’in berkunjung ke Casablanka, Maroko,
tepatnya pada bulan Januari 1984, yaitu mengikuti Kunjungan Kenegaraan bersama
Wakil Presiden RI, Umar Wirahadi Kusuma dan Menteri Luar Negeri RI Prof. Dr.
Muchtar Kusumaatmadja dalam acara Konverensi Tingkat Tinggi Organisasi
Konferensi Islam (OKI). Kunjungan ini dilanjutkan ke Perancis dan Jerman Barat.
Selanjutnya pada bulan Juli dengan tahun yang sama, KH Musta’in mengikuti Konferensi
antar Rektor se- dunia di Bangkok.
Semua kunjungan dijalani KH. Musta’in dengan tekun demi
kelembagaan Pendidikan yang dialamatkan beliau, yaitu Lembaga Pondok Pesantren
Darul Ulum, Lembaga Thariqah Qoddiriyyah wa Naqsabandiyah dan Universitas Darul
Ulum. Sampai wafat pada tanggal 21 Januari 1985, beliau meninggalkan
putra-putri M. Rokhmad (almarhun), H. Luqman Hakim dari Ibu Chafsoh Ma’som, Hj
Choirun Nisa’ dari Ibu Dzurriyatul Lum’ah, H. Abdul Mujib, Ahmada Faidah,
Chalimatussa’diyah dari Ibu Nyi Hj Djumiyatin Musta’in serta Siti Sarah dan
Dewi Sanawai dari Ibu Ny. Hj. Latifa.
Adapun jabatan yang pernah diamanahkan kepada Dr. KH. Musta’in
Romly adalah:
1. Aggota DPR – MPR RI tahun 1983 sampai wafat.
2. Wakil ketua DPP MDI tahun 1984 sampai wafat.
3. Rektor Universitas Darul Ulum tahun 1965 sampai wafat.
4. Al Mursyid Toriqoh Qodiriyah Wa Naqwsabandiyah tahun 1958.
5. Ketua Umum Majelis Pimpinan Pondok Pesantren Darul Ulum tahun
1958 sampai wafat.
6. Anggota BKS Perguruan Tinggi Swasta tahun 1983 sampai wafat.
7. Anggota IAUP (International Association of University President)
1981 di Chicago.
8. Ketua Umum Jam’iyah Thoriqot Mu’tabaroh Indonesia pada tahun
1975 sampai wafat.
Melihat perjalanan karir politik tersebut, langkah politik
beliau memang menuai kontroversi. Di samping loncat dari PPP menuju Golkar, hal
ini juga berimbas ke dalam internal PPDU, yang terdiri dari banyak kiai. Namun
apapun langkah yang beliau tempuh ternyata berdampak sangat positif bagi
internal Pondok Pesantren Darul Ulum, NU, NKRI, dan lebih jauh adalah
mengandung edukasi yang sangat tinggi dalam membangun pemahaman kaun santri
pada khususnya, dan masyarakat (ummat) pada umumnya. Wallahu A’lam.












