SARJANA INGSUN RIFAI

Acara Prosesi Wisuda S-1 Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Pasuruan

Sang Pejuang Keluarga

Pejuang keluarga yang penuh ketangguhan dan keihlasan demi menyongsong masa depan yang cerah

MENATAP MASA DEPAN YANG CERAH

Tampil biasa dan apa adanya walaupun kadang terlihat rendah dari pada yang lainnya

Sukmo Semanding Rogo

Tunduk Patuh Neriman Ing Pandhum.e Gusti Allah

Eling marang Gusti Pangeran tur ra nglaleke dumateng Kanjeng Guru

Biasa dengan membiasakan diri seperti biasa agar tidak terlihat luar biasa walaupun terkadang hanya impian belaka

Tampilkan postingan dengan label Kisah: KH. Sholeh Qosim Tentara Sabilillah Turut Perang 10 November. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah: KH. Sholeh Qosim Tentara Sabilillah Turut Perang 10 November. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Mei 2018

Kisah: KH. Sholeh Qosim Tentara Sabilillah Turut Perang 10 November


Kisah: KH. Sholeh Qosim Tentara Sabilillah Turut Perang 10 November


KH. Sholeh Qosim
Nahdlatul Ulama kembali kehilangan salah seorang kiainya, yaitu Pengasuh Pondok Pesantren Bahauddin Sepanjang, Sidoarjo, KH Sholeh Qosim. Ia wafat di kediamannya, Kamis (10/3) petang pada saat Shalat Maghrib. Ia dipanggil Allah saat sujud. 

Tak banyak yang tahu, kiai yang lahir pada 1930 ini adalah salah seorang pejuang kemerdekaan NKRI. Dia adalah salah seorang tentara Sabilillah, sebuah kelaskaran rakyat yang dipimpin tokoh NU, KH Masykur dari Malang. 

Salah seorang pengurus Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) PBNU Eko Ahmadi, pernah mengikuti pertemuan dengan menghadirkan KH Sholeh Qosim. Salah satu ceritanya adalah bahwa dia adalah salah seorang laskar Sabilillah. 

KH Sholeh Qosim turut berperang pada 10 November 1945 yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan. Sebelumnya, peristiwa itu didahului dengan fatwa yang dikeluarkan para kiai NU, yaitu Rasolusi Jihad NU pada 22 Oktober yang kemudian ditetapkan menjadi Hari Santri. 

Dengan fatwa itu berperang membela negara kesatuan Republik Indonesia adalah jihad. Dengan adanya fatwa ini para ulama dan santri mengobrkan semangat berperang melawan penjajah.

Tentang dia turut berperang pada 10 November dibenarkan cucu KH Sholeh Qosim, yaitu Gus Miftah, yang berhasil dihubungi NU Online Kamis tengah malam. 

Menurut dia, KH Sholeh Qosim pada peristiwa masih masih muda. Ia turut berangkat bersama ayahnya, yaitu Kiai Qosim. 

“Jadi, sebenarnya ngawal ayahnya yang bernama Kiai Qosim yang ikut Sabilillah,” katanya.