SARJANA INGSUN RIFAI

Acara Prosesi Wisuda S-1 Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Pasuruan

Sang Pejuang Keluarga

Pejuang keluarga yang penuh ketangguhan dan keihlasan demi menyongsong masa depan yang cerah

MENATAP MASA DEPAN YANG CERAH

Tampil biasa dan apa adanya walaupun kadang terlihat rendah dari pada yang lainnya

Sukmo Semanding Rogo

Tunduk Patuh Neriman Ing Pandhum.e Gusti Allah

Eling marang Gusti Pangeran tur ra nglaleke dumateng Kanjeng Guru

Biasa dengan membiasakan diri seperti biasa agar tidak terlihat luar biasa walaupun terkadang hanya impian belaka

Senin, 04 September 2017

Pendekatan Dalam Kajian Sastra

Pendekatan Dalam Kajian Sastra

Dalam mengkaji sebuah karya sastra, kita tidak dapat melepaskan diri dari cara pandang yang bersifat parsial, maka ketika mengkaji karya sastra, seringkali seseorang akan memfokuskan perhatiaanya hanya kepada aspek-aspke tertentu dari karya sastra. Aspek-aspek tertentu itu misalnya berkenaan dengan persoalan estetika, moralitas, psikologi, masyarakat, beserta dengan aspek-aspeknya yang lebih rinci lagi, dan sebagainya. Hal itu sendiri, memang bersifat multidimensional. Karena hal-hal di atas, maka muncul berbagai macam pendekatan kajian sastra.
Berikut pendekatan dalam kajian sastra:

1. Pendekatan Mimetik

Pendekatan mimetik adalah pendekatan yang dalam mengkaji karya sastra berupa memahami hubungan karya sastra dengan realitas atau kenyataan. Kata mimetik berasal dari kata mimesis (bahasa Yunani) yang berarti tiruan. Dalam pendekatan ini karya sastra dianggap sebagai tiruan alam atau kehidupan (Abrams, 1981). Untuk dapat menerapkannya dalam kajian sastra, dibutuhkan data-data yang berhubungan dengan realitas yang ada di luar karya sastra. Biasanya berupa latar belakang atau sumber penciptaa karya sastra yang akan dikaji. Misal novel tahun 1920-an yang banyak bercerita tentang "kawin" paksa. Maka dibutuhkan sumber dan budaya pada tahun tersebut yang berupa latar belakang sumber penciptaannya.

2. Pendekatan Ekspresif

Pendekatan ekspresif adalah pendekatan yang dalam mengkaji karya sastra memfokuskan perhatiannya pada sastrawan selaku pencipta karya sastra. Pendekatan ini memandang karya sastra sebagai ekspresi sastrawan, sebagai curahan perasaan atau luapan perasaan dan pikiran sastrawan, atau sebagai produk imajinasi sastrawan yang bekerja dengan persepsi-persepsi, pikiran atau perasaanya. Kerena itu, untuk menerapkan pendekatan ini dalam kajian sastra, dibutuhkan sejumlah data yang berhubungan dengan diri sastrawan, seperti kapan dan di mana dia dilahirkan, pendidikan sastrawan, agama, latar belakang sosial budayannya, juga pandanga kelompok sosialnya.

3. Pendekatan Pragmatik

Pendekatan pragmatik adalah pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca. Dalam hal ini tujuan tersebut dapat berupa tujuan politik, pendidikan, moral, agama, maupun tujuan yang lain. Dalam praktiknya pendekatan ini cenderung menilai karya sastra menurut keberhasilannya dalam mencapai tujuan tertentu bagi pembacannya (Pradopo, 1994).
Dalam praktiknya, pendekatan ini mengkaji dan memahami karya sastra berdasarkan fungsinya untuk memberikan pendidikan (ajaran) moral, agama, maupun fungsi sosial lainnya. Semakin banyaknya nilai-nilai tersebut terkandung dalam karya sastra makan semakin tinggi nilai karya sastra tersebut bagi pembacannya.

4. Pendekatan Objektif

Pendekatan objektif adalah pendekatan yang memfokuskan perhatian kepada karya sastra itu sendiri. Pendekatan ini memandang karya sastra sebagai struktur yang otonom dan bebas dari hubungannya dengan realitas, pengarangm maupun pembaca. Pendekatan ini juga disebut oleh Welek & Waren (1990) sebagai pendekatan intrinsik karena kajian difokuskan pada unsur intrinsik karya sastra yang dipandang memiliki kebulatan, koherensi, dan kebenaran sendiri.

5. Pendekatan Struktural

Pendekatan struktural ini memandang dan memahami karya sastra dari segi struktur karya sastra itu sendiri. Karya sastra dipandang sebagai sesuatu yang otonom, berdiri sendiri, bebas dari pengarang, realitas maupun pembaca (Teeuw, 1984).
Dalam penerapannya pendekatan ini memahami karya sastra secara close reading. Atau mengkaji tanpa melihat pengarang dan hubunga dengan realitasnya. Analisis terfokus pada unsur intrinsik karya sastrra. Dalam hal ini setiap unsur dianalisis dalam hubungannya dengan unsur yang lain.

6. Pendekatan Semiotik

Dalam kajian sastra, pendekatan semiotik memandang sebuah karya sastra sebagai sebuah sistem tanda.Secara sistematik, semiotik mempelajari tanda-tanda dan lambang-lambang, sistem lambang, dan proses-proses perlambangan.
Pendekatan ini memandang fenomena sosial dan budaya sebagai suatu sistem tanda. Tanda tersebut hadir juga dalam kehidupan sehari misal: bendera putih di depan gang, maka orang akan berpikir ada salah satu keluarga yang sedang ada yang berduka. contoh lain adalah mendung: orang akan berpikir hujan akan segera turun sebentar lagi. Tentu saja untuk memahaminya dibutuhkan pengetahuan tentang latarbelakang sosial-budaya karya sastra tersebut dibuat.
Tanda, dalam pendekatan ini terdiri dari dua aspek yaitu: penanda (hal yang menandai sesuatu) dan petanda (referent yang diacu).

7. Pendekatan Sosiologi Sastra

Pendekatan sosiologi sastra merupakan perkembangan dari pendekatan mimetik. Pendekatan ini memahami karya sastra dalam hubungannya dengan realitas dan aspek sosial kemasyarakatannya. Pendekatan ini dilatarbelakangi oleh fakta bahwa keberadaan karya sastra tidak dapat lepas dari realitas sosial yang terjadi di suatu masyarakat (Sapardi Djoko Damono 1979).

8. Pendekatan Resepsi Sastra

Resepsi berarti tanggapan. Dari pengertian tersebut dapat kita pahami makna resepsi sastra adalah tanggapan dari pembaca terhadap sebuah karya sastra. Pendekatan ini mencoba memahami dan menilai karya sastra berdasarkan tanggapan para pembacanya.

9. Pendekatan Psikologi Sastra

Wellek & Waren (1990) mengemukakan empat kemungkinan pengertian. Pertama adalah studi psikologi pengarang sebgai tipe atau pribadi. Kedua studi proses kreatif. Ketiga studi tipe dan hukum-hukum psikologi yang diterapkan dalam karya sastra.
Pengertian keempat menurut Wellek & Waren (1990) terasa lebih dekat pada sosiologi pembaca. 

10. Pendekatan Moral

Di samping karya sastra dapat dibahas dan dikritik berdasrkan sejumlah pendelatan yang telah diuraikan sebelumnnya, karya sastra juga dapat dibahasa dan dikritik dengan pendekatan moral. Sejauh manakah sebuah karya sastra menawarkan refleksi moralitas kepada pembacanya. Yang dimaksudkan dengan moral adalah suatu norma etika, suatu konsep tentang kehidupan yang dijunjung tinggi oleh masyarakatnnya. Moral berkaitan erat dengan baik dan buruk. Pendekatan ini masuk dalam pendekatan pragmatik

11. Pendekatan Feminisme

Pendekatan feminisme dalam kajian sastra sering dikenal dengan nama kritik sastra feminis. Pendekatan feminisme ialah salah satu kajian sastra yang mendasarkan pada pandangan feminisme yang menginginkan adanya keadilan dalam memandan eksistensi perempuan, baik sebagai penulis maupun dalam karya sastra (Djananegara, 2000:15).

Sabtu, 02 September 2017

Meningkatkan Kemampuan Mengidentifikasi Unsur Cerita Rakyat Yang Didengar Menggunakan Sumbang Saran (Brain-Storming) Siswa Kelas V UPT SDN Sunan Giri

ABSTRAK



Abdillah, M. Rifa’i. 2010. Meningkatkan Kemampuan Mengidentifikasi Unsur Cerita Rakyat Yang Didengar Menggunakan Sumbang Saran (Brain-Storming) Siswa Kelas V UPT SDN Sunan Giri Kecamatan Rejoso Kabupaten Pasuruan Tahun Pelajaran 2010/2011

Kata Kunci     : Konsep Pembelajaran, Bercerita dan Sumbang Saran, Mendengar dan Berbicara, Cerita Rakyat

Pembelajaran Bahasa Indonesia untuk aspek mendengarkan dengan Kompetensi Dasar mengidentifikasi unsur cerita rakyat yang didengar, kegiatan yang  dilakukan guru pada sebelumnya adalah siswa mendengarkan cerita dari guru. Untuk mengetahui kemampuan siswa guru memberikan soal-soal mengenai unsur-unsur yang ada dalam cerita baik secara lisan maupun tertulis yang harus dikerjakan oleh siswa  sendiri-sendiri.
Sumbang saran merupakan cara untuk mencari pemecahan masalah. Kita hidup sebagai makhluk sosial. Di mana dalam kehidupan sehari-hari tidak pernah lepas dari orang lain. Bercerita membutuhkan pendengar, di sini siswa diharapkan belajar menghormati orang yang berbicara. Setelah mendengarkan diharapkan siswa aktif berbicara untuk mengutarakan pendapatnya.
Brain-Storming adalah suatu  cara mengajar guru dengan cara melontarkan suatu masalah, kemudian siswa menjawab atau menyatakan pendapat, menyanggah atau memberi komentar sehingga mungkin masalah tersebut berkembang menjadi masalah baru, atau dapat diartikan sebagai cara untuk mendapat ide dari siswa dalam waktu singkat. Di dalam kegiatan menyimak selalu diawali kegiatan mendengarkan. Tujuan  menyimak, adalah melatih siswa memahami bahasa lisan.  Cerita Rakyat adalah cerita milik masyarakat yang diceritakan dari mulut ke mulut.
Penelitan ini bertempat di UPT SDN Sunan Giri Kecamatan Rejoso Kabupaten Pasuruan yang dilaksanakan pada hari Jumat 30 Agustus 2010 untuk Siklus I, Siklus II hari Jumat tanggal 3 September 2010, Siklus ke III hari Jumat tanggal 10 September 2010. Subyek penelitian adalah siswa kelas V UPT SDN Sunan Giri, pada Kompetensi Dasar “Mengidentifikasi unsur cerita  rakyat yang didengar”.
Kesimpulan penelitian ini adalah (a) pembelajaran menggunakan sumbang saran dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam mengidentifikasi unsur cerita rakyat yang didengar yang dapat dilihat dari prosentase keaktifan siswa mulai siklus I yaitu 35%, 53%, dan 84% dan (b) pembelajaran menggunakan sumbang dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengidentifikasi unsur cerita rakyat yang didengar dapat dilihat dari peningkatan nilai formatif, yaitu rata-rata kelas pada suklus I  61,16, siklus II 74,2, siklus III 81,08.

Saran-saran yang terdapat dalam penelitian ini ialah (a) untuk melaksanakan pembelajaran dengan mengutamakan sumbang saran, perlu persiapan yang matang agar memperoleh hasil yang optimal dan (b) untuk melatih kemampuan siswa dalam mengidentifikasi unsur cerita dengan  sumbang saran, guru dituntut  melatih  siswa dengan berbagai bentuk pertanyaan walau dalam taraf sederhana, supaya siswa berani mengutarakan pendapat dan belajar memecahkan masalah-masalah yang dihadapi.





BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar  Belakang
Kualitas pendidikan merupakan salah satu pilar pengembangan sumber daya manusia bermakna yang sangat penting bagi pembangunan nasional. Bahkan bisa dikatakan bahwa masa depan bangsa bergantung pada kualitas pendidikan masa kini. Dalam peningkatan kualitas pendidikan tidak lepas peranan seorang guru, walaupun guru bukan satu-satunya faktor penunjang. Di samping guru ada faktor lain yaitu kurikulum, peserta didik, sarana prasarana, lingkungan, dan sosial budaya. Dalam proses pembelajaran, guru sebagai fasilitator, maka guru dituntut sanggup dan terampil melaksanakan tugasnya dengan baik. Mulai dari merancang pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, melaksanakan evaluasi dan mengadakan perbaikan.

1
Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia untuk aspek mendengarkan dengan Kompetensi Dasar mengidentifikasi unsur cerita rakyat yang didengar, kegiatan yang  dilakukan guru pada sebelumnya adalah siswa mendengarkan cerita dari guru. Untuk mengetahui kemampuan siswa guru memberikan soal-soal mengenai unsur-unsur yang ada dalam cerita baik secara lisan maupun tertulis yang harus dikerjakan oleh siswa  sendiri-sendiri. Dalam situasi seperti ini ada siswa yang bisa menjawab ada pula yang tidak bisa menjawab. Di samping itu siswa secara umum dalam pelajaran Bahasa Indonesia sering kurang berminat dalam mendengarkan dan berbicara, dengan berbagai faktor penyebabnya, di antaranya  bosan mendengarkan, malu, takut, ragu-ragu dalam mengutarakan pendapat, kurang menguasai kosa kata, dan lain-lain.
Di samping itu cara seperti di atas kurang menumbuhkan keaktifan siswa.  Dengan demikian agar siswa dapat meningkatkan kemampuannya dalam mengidentifikasi unsur cerita  rakyat yang didengarnya, guru terdorong ingin memperbaiki pembelajaran dan perlu menyajikan dalam bentuk yang lebih menarik yang dapat menumbuhkan keaktifan siswa, dengan cara yang komunikatif.
Dengan  kondisi seperti di atas,  guru  ingin memperbaiki pembelajaran menggunakan sumbang saran. Sebelum sumbang saran dilaksanakan, diawali dengan bercerita, siswa mendengarkan  cerita tersebut.
Bercerita artinya sama dengan mendongeng. Sejak dulu mendongeng telah dipergunakan  para orang tua kepada anaknya untuk pengantar tidur karena anak kecil sangat suka dengan dongeng. Di dalam dongeng berisi ajaran moral yang patut ditularkan kepada anak-anaknya, yaitu melalui sifat atau watak dari pelaku dongeng tersebut.
Dalam kehidupan  anak sekarang ini pengaruh televisi sangat banyak. Banyak film anak namun kurang cocok untuk anak, contoh adegan brutal, adegan melawan orang tua, mencopet dan lain-lain. Perbuatan-perbuatan seperti itu bisa dikurangi pengaruhnya terhadap anak kecil diantaranya dengan cara  bercerita akibat perbuatan yang tidak baik tersebut.
Dalam era perkembangan teknologi sekarang ini, banyak kejadian yang mengakibatkan perubahan di segala bidang, sehingga timbul masalah silih berganti. Dengan adanya berbagai masalah sumbang saran sangat dibutuhkan terutama untuk anak-anak. Tanpa ada saran dari orang lain anak-anak akan melangkah terlalu jauh, keluar kendali.
Sumbang saran merupakan cara untuk mencari pemecahan masalah. Kita hidup sebagai makhluk sosial. Di mana dalam kehidupan sehari-hari tidak pernah lepas dari orang lain. Setiap ada masalah kita tidak bisa memutuskan sendiri, kita selalu membutuhkan orang lain untuk menyumbangkan sarannya, agar cepat selesai. Bila kita salah ada yang memberi nasihat atau mengomentari bahkan menanggapi maka kehidupan menjadi dinamis dan terarah.
Bercerita membutuhkan pendengar, di sini siswa diharapkan belajar menghormati orang yang berbicara. Setelah mendengarkan diharapkan siswa aktif berbicara untuk mengutarakan pendapatnya. Dengan demikian sumbang saran cocok untuk mendidik siswa bermusyawarah,  berfikir kritis,  aktif sehingga perlu diberikan pada anak sejak dini dengan tujuan bermanfaat bagi  siswa untuk di kemudian hari.
Dengan berbagai hal yang disampaikan di atas, maka sangat perlu diangkat materi ini untuk perbaikan pembelajaran dan tingkat urgensinya sangat besar dengan mengambil judul “Meningkatkan Kemampuan Mengidentifikasi Unsur Cerita Rakyat Yang Didengar Menggunakan Sumbang Saran (Brain-Storming) Siswa Kelas V  UPT SDN Sunan Giri I Kecamatan Rejoso Kota Pasuruan Tahun Pelajaran 2010/2011”.




B.  Rumusan Masalah
                     Berdasarkan uraian yang melatarbelakangi pemilihan judul dan berdasar judul itu sendiri maka dapat  ada beberapa permasalahan yang dirumuskan sebagai berikut:
1.      Apakah sumbang saran dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam mengidentifikasi unsur cerita rakyat yang didengar?
2.      Apakah sumbang saran dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengidentifikasi unsur cerita rakyat yang didengar?

C . Tujuan Penelitian
Berdasarkan atas rumusan masalah di atas, maka tujuan diadakan penelitian ini adalah ingin mengetahui :
1.      Sumbang saran dapat  meningkatan keaktifan siswa dalam mengidentifkasi unsur cerita rakyat yang didengar.
2.      Sumbang saran dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengidentifikasi unsur rakyat yang didengar.

D.  Manfaat Penelitian
1. Manfaat bagi guru
     a. Mencobakan sebuah cara menjadi pengalaman yang berharga.
b.  Untuk memperbaiki pembelajaran.
c. Untuk disebarkan ke teman sejawat supaya tergerak mencobakan hasil tersebut, paling  tidak  mencoba  melakukan perbaikan di kelasnya.
 d. Membantu guru berkembang secara professional
2. Manfaat bagi siswa 
a.    Menjadi lebih aktif pada pembelajaran dengan sumbang saran.
b.    Meningkatkan kemampuan siswa dalam mengidentifikasi unsur cerita.
3. Manfaat bagi kepala sekolah
    a. Membantu memotivasi guru lain untuk lebih inovatif  dalam pembelajaran.
     b. Hasil penelitian ini dapat dijadikan  acuan dalam penelitan sejenis.
4. Manfaat bagi sekolah
   a. Sekolah yang gurunya mampu membuat perubahan mempunyai kesempatan    yang besar untuk berkembang.
   b. Suatu lembaga bila mutu nilainya bagus, lembaga tersebut dianggap berprestasi, sehingga menjadi faforit masyarakat  ingin menyekolahkan putra-putrinya di lembaga tersebut.
 
E. Batasan Masalah
                  Penelitian   ini  hanya  dibatasi  pada  siswa  kelas  V   UPT SDN Sunan Giri I Semester I tahun 2010/2011 dengan pokok persoalan  mengidentifikasi  unsur   cerita   rakyat    yang   didengar   mengenai  latar, tokoh, dan watak.


 Info lebih lengkap....Silahkan Hubungi :
M. RIFA'I ABDILLAH, S.Pd
NO. HP/WA : 0856-0810-8141

Penerapan Model Pembelajaran Konstruktivisme Untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia Kelas V C UPT SDN Sunan Giri

ABSTRAK

Abdillah, Rifai. 2012.  Penerapan Model Pembelajaran Konstruktivisme Untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia Kelas V C UPT SDN Sunan Giri Kecamatan Rejoso Kabupaten Pasuruan Tahun Pelajaran 2012/2013

Kata Kunci : pembelajaran konstruktivistik, kemampuan menulis

Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar mengajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Hal itu berarti berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan pendidikan bergantung pada proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik. Kegiatan pembelajaran di sekolah menunjukkan kegiatan pembelajaran menulis belum optimal. Hal tersebut ditunjukkan kurang mampunya siswa dalam mengemukakan pendapat dan gagasannya secara kreatif serta kurang mampu mendapatkan dan mengumpulkan informasi yang aktual sebagai bahan tulisan.
Pola pembelajaran menulis yang dikembangkan sangat berstruktur dan mekanis, mulai dari penentuan topik, penyeragaman kerangka tidaklah selamanya bijaksana. Dengan adanya penyeragaman topik, penyeragaman pola, menyebabkan kreativitas siswa menjadi kurang berkembang. Salah satu alternatif dalam penelitian ini, yaitu menerapkan metode pembelajaran konstruktivistik. Pembelajaran dengan metode konstruktivistik ini digunakan agar siswa mampu menemukan masalah dan selanjutnya membantu siswa menyelesaikan dan menemukan langkah-langkah pemecahan masalah tersebut.
Metode konstruktivistik adalah ide bahwa siswa harus secara individu menemukan dan menerapkan informasi-informasi yang kompleks ke dalam situasi lain apabila mereka harus menjadikan informasi itu miliknya sendiri. Menulis ialah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grfik yang menggambarkan suatu bahasa yang dapat dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut.
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan  di Kelas V C UPT SDN Sunan Giri Kecamatan Rejoso Kabupaten Pasuruan Tahun Pelajaran 2012/2013 berjumlah 37 siswa dengan komposisi 21 siswa laki-laki dan 16 siswa perempuan.
Dari pelaksanaan tindakan selama penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan metode konstruktivistik dapat meningkatkan kemampuan dan hasil belajar siswa Kelas V C UPT SDN Sunan Giri Kecamatan Rejoso Kabupaten Pasuruan dalam menulis karangan berdasarkan pengalaman dengan memperhatikan pilihan-pilihan kata dan penggunaan ejaan. Peningkatan ini dapat dilihat dari nilai rata-rata dan persentase ketuntasan belajar siswa pada siklus I sebesar 71,62 (73%) dan siklus II sebesar 82,70 (100%).

Adapun saran-saran dalam penelitian ini yaitu : (a) Guru sebaiknya  menerapkan metode konstruktivistik dalam pembelajaran, (b) Siswa harus mengembangkan keterampilan menullisnya, terutama dalam pembelajaran menulis slogan dan (c) Peneliti lain disarankan agar memperbaiki kekurangan yang ada dalam penelitian tindakan kelas ini sehingga penerapan metode konstruktivistik dalam pembelajaran benar-benar optimal pelaksanaannya. 


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Upaya untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar para siswa pada setiap jenjang dan tingkat pendidikan perlu diwujudkan agar diperoleh kualitas sumber daya manusia Indonesia yang dapat menunjang pembangunan nasional. Upaya tersebut menjadi tanggung jawab semua tenaga kependidikan. Dalam konteks ini, peran guru sangat strategis sebab guru yang langsung dapat membina siswa di sekolah melalui proses pembelajaran.
Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar mengajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Hal itu berarti berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan pendidikan bergantung pada proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik.
Penelitian tindakan kelas ini dilakukan untuk menggali masalah dari kenyataan-kenyataan yang terdapat di lingkungan pendidikan, yaitu permasalahan yang dihadapi oleh guru. Dengan demikian, untuk mengetahui permasalahan yang terjadi dalam proses pengajaran bahasa Indonesia diperlukan diskusi kolaboratif dengan guru mata pelajaran. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru murid Kelas V C  UPT SDN Sunan Giri Kecamatan Rejoso Kabupaten Pasuruan Tahun Pelajaran 2012/2013 tentang materi pokok menulis karangan berdasarkan pengalaman dengan memperhatikan pilihan-pilihan kata dan penggunaan ejaan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia diketahui dari 37 siswa memperoleh nilai di atas KKM sebanyak 21 siswa atau sekitar 56,76% dan hanya 16 siswa yang memperoleh nilai di bawah KKM atau hanya 43,24% dari seluruh jumlah siswa. Hal ini berarti murid Kelas V C UPT SDN Sunan Giri Kecamatan Rejoso Kabupaten Pasuruan Tahun Pelajaran 2012/2013 belum mencapai syarat ketuntasan minimal. Dan selain itu, berdasarkan  hasil wawancara dengan guru bidang studi bahasa Indonesia di UPT SDN Sunan Giri Kecamatan Rejoso Kabupaten Pasuruan Tahun Pelajaran 2012/2013  didapatkan bahwa murid Kelas V C UPT SDN Sunan Giri Kecamatan Rejoso Kabupaten Pasuruan mengalami kesulitan dalam pembelajaran menulis khususnya menulis karangan berdasarkan pengalaman dengan memperhatikan pilihan-pilihan kata dan penggunaan ejaan. Siswa terkadang sulit membedakan ciri-ciri slogan  dan poster dengan konteks.
Kegiatan pembelajaran di sekolah menunjukkan kegiatan pembelajaran menulis belum optimal. Hal tersebut ditunjukkan kurang mampunya siswa dalam mengemukakan pendapat dan gagasannya secara kreatif serta kurang mampu mendapatkan dan mengumpulkan informasi yang aktual sebagai bahan tulisan. Penyebab ketidakoptimalan tersebut antara lain dikarenakan metode yang digunakan oleh guru kurang tepat, guru masih mendominasi kelas dan kurang memberi kesempatan kepada siswa untuk berkreasi, mengekspresikan diri secara bebas. Ketika pembelajaran menulis karangan berdasarkan pengalaman dengan memperhatikan pilihan-pilihan kata dan penggunaan ejaan ditentukan oleh guru. Hak otonomi siswa untuk berkreasi, mengekspresikan, melukiskan jati dirinya atau lingkungan sekitarnya sesuai pengalamannya menjadi terkekang.
            Realita pembelajaran yang seperti ini membawa dampak kurang baik untuk siswa. Siswa mengalami kesulitan ketika harus menulis karangan berdasarkan pengalaman dengan memperhatikan pilihan-pilihan kata dan penggunaan ejaan. Peserta didik bingung apa yang harus ia lakukan untuk mengerjakan tugas tersebut. Sulit menemukan data yang aktual dan faktual serta menarik untuk bahan menulis karangan berdasarkan pengalaman dengan memperhatikan pilihan-pilihan kata dan penggunaan ejaan, tidak tahu bagaimana dan dari mana mesti memulai menulis karangan berdasarkan pengalaman dengan memperhatikan pilihan-pilihan kata dan penggunaan ejaan. Belum lagi, perasaan takut salah, takut berbeda dengan apa yang diinstruksikan oleh gurunya sehingga respon siswa terhadap pelajaran menulis karangan berdasarkan pengalaman dengan memperhatikan pilihan-pilihan kata dan penggunaan ejaan berkurang dan pada akhirnya menghilangkan minat siswa dalam menulis karangan berdasarkan pengalaman dengan memperhatikan pilihan-pilihan kata dan penggunaan ejaan.
            Pola pembelajaran menulis yang dikembangkan sangat berstruktur dan mekanis, mulai dari penentuan topik, penyeragaman kerangka tidaklah selamanya bijaksana. Dengan adanya penyeragaman topik, penyeragaman pola, menyebabkan kreativitas siswa menjadi kurang berkembang. Peserta didik merasa materi tersebut asing karena skemata/informasi awal tentang tema/topik yang akan ditulis tersebut kurang memadai. Akibatnya, pembelajaran menulis karangan berdasarkan pengalaman dengan memperhatikan pilihan-pilihan kata dan penggunaan ejaan menjadi kering, tidak menarik, tidak alamiah, dan tidak bermakna. Siswa akan kehilangan gairah dalam mengikuti pembelajaran menulis sehingga keterampilan peserta didik dalam menulis khususnya dalam menulis karangan berdasarkan pengalaman dengan memperhatikan pilihan-pilihan kata dan penggunaan ejaan menjadi terhambat. Tompkins (1994: 105), menyatakan terlalu menuntut kesempurnaan hasil tulisan dari peserta didik justru dapat menghentikan kemauan siswa untuk menulis.
            Dalam studi pendahuluan, melalui pengamatan dan wawancara dengan guru kelas dan murid Kelas V C UPT SDN Sunan Giri Kecamatan Rejoso Kabupaten Pasuruan Tahun Pelajaran 2012/2013, pembelajaran menulis karangan berdasarkan pengalaman dengan memperhatikan pilihan-pilihan kata dan penggunaan ejaan kurang memaksimalkan kemampuan siswa. Hal tersebut dapat dilihat pada: (1) siswa kesulitan dalam menemukan menulis perbedaan karangan berdasarkan pengalaman dengan memperhatikan pilihan-pilihan kata dan penggunaan ejaan; (2) siswa kurang mempunyai data yang aktual dan faktual sebagai bahan untuk mengidentifikasi jenis-jenis karangan berdasarkan pengalaman dengan memperhatikan pilihan-pilihan kata dan penggunaan ejaan. Berdasarkan hal tersebut, masalah yang dihadapi para peserta didik adalah kesulitan memperoleh data yang aktual, faktual, dan menarik sebagai bahan menulis karangan berdasarkan pengalaman dengan memperhatikan pilihan-pilihan kata dan penggunaan ejaan. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya keterlibatan dan kesempatan yang diberikan kepada siswa untuk mengalami langsung dalam proses menulis karangan berdasarkan pengalaman dengan memperhatikan pilihan-pilihan kata dan penggunaan ejaan. Eanes (1997:484) berpendapat bahwa pembelajaran menulis yang baik haruslah memberi model proses dan praktik yang terarah dan sistematis.
Oleh karena itu, peneliti berkolaborasi dengan guru kelas untuk merancang sebuah pembelajaran yang mampu peserta didik termotivasi selama mengikuti proses belajar-mengajar. Salah satu alternatif dalam penelitian ini, yaitu menerapkan metode pembelajaran konstruktivistik. Metode konstruktivistik ini dikembangkan oleh Piaget dan Vigotsky (Suyatno, 2004:33) yang menekankan bahwa perubahan kognitif hanya terjadi jika konsepsi-konsepsi yang telah dipahami sebelumnya diolah melalui proses ketidakseimbangan dalam upaya memperoleh informasi baru.
Pembelajaran dengan metode konstruktivistik ini digunakan agar siswa mampu menemukan masalah (sering muncul dari siswa sendiri) dan selanjutnya membantu siswa menyelesaikan dan menemukan langkah-langkah pemecahan masalah tersebut. Metode Konstruktivistik didasarkan pada belajar kogntif yang menekankan pada pembelajaran kooperatif, pembelajaran generatif, bertanya, inkuiri atau menemukan dan keterampilan metakognitif lainnya (Suyatno, 2004:33).
Dengan menyoroti latar belakang tersebut, metode konstruktivistik dipilih sebagai alternatif tindakan dalam pengajaran dalam menulis karangan berdasarkan pengalaman dengan memperhatikan pilihan-pilihan kata dan penggunaan ejaan karena metode ini dianggap sebagai cara yang efektif untuk mengarahkan seluruh potensi siswa sehingga siswa lebih termotivasi selama mengikuti proses belajar-mengajar yang berdampak positif pada hasil belajarnya.
Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan menulis karangan berdasarkan pengalaman dengan memperhatikan pilihan-pilihan kata dan penggunaan ejaan dengan metode konstruktivistik murid Kelas V C UPT SDN Sunan Giri Kecamatan Rejoso Kabupaten Pasuruan Tahun Pelajaran 2012/2013.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian di atas, masalah penelitian ini dirumuskan sebagai berikut. ”Apakah dengan penerapan model pembelajaran kontruktivisme dapat meningkatkan kemampuan menulis karangan berdasarkan pengalaman dengan memperhatikan pilihan-pilihan kata dan penggunaan ejaan Bahasa Indonesia murid Kelas V C UPT SDN Sunan Giri Kecamatan Rejoso Kabupaten Pasuruan Tahun Pelajaran 2012/2013?”

C.    Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui peningkatan kemampuan menulis karangan berdasarkan pengalaman dengan memperhatikan pilihan-pilihan kata dan penggunaan ejaan dengan metode konstrutivistik murid Kelas V C UPT SDN Sunan Giri Kecamatan Rejoso Kabupaten Pasuruan Tahun Pelajaran 2012/2013.

D.    Manfaat Penelitian
Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak berikut.
(a)    Bagi guru, hasil penelitian ini bermanfaat bagi guru dalam mengatasi kesulitan belajar siswa. Di samping itu, guru dapat mengetahui metode pembelajaran yang tepat untuk mengatasi kesulitan dalam pembelajaran.
(b)   Bagi siswa, hasil penelitian ini bermanfaat bagi siswa dalam menulis karangan berdasarkan pengalaman dengan memperhatikan pilihan-pilihan kata dan penggunaan ejaan.
(c)    Bagi sekolah, hasil penelitian ini sangat bermanfaat bagi pengelola sekolah dalam meningkatkan perbaikan pembelajaran di sekolah
(d)   Bagi peneliti lain,hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada peneliti-peneliti selanjutnya.
(e)    Bagi dosen, penelitian ini diharapkan dapat menggalih pemasalahan-permasalahan pembelajaran bahasa Indonesia di lapangan, dan mengakomodasi permasalahan di lapangan dalam pembelajaran di LPTK sebagai penghasil guru, dan membantu peningkatan kualitas pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah.


Bagi yang membutuhkan File Lengkapnya...... 
Silahkan Hubungi : 
M. Rifa'i Abdillah, S.Pd
No. HP/WA : 0856-0810-8141